Hati-Hati, Bercanda Dengan Gambar Meme yang Mengandung Dusta Bisa Menyebabkan Dosa !!
contoh meme dusta Memerhatikan penyebaran gambar meme yang semakin marak menampilkan gambar orang lain dengan kata-kata yang diedit, di...
http://syariah-pos.blogspot.com/2017/01/hati-hati-bercanda-dengan-gambar-meme-yang-mengandung-dusta-bisa-menyebabkan-dosa.html
![]() |
| contoh meme dusta |
Memerhatikan penyebaran gambar meme yang semakin marak
menampilkan gambar orang lain dengan kata-kata yang diedit, dibuat oleh pihak
lainnya dengan maksud bercanda, semisal gambar empat perempuan muda belia yang
sepertinya sedang aksi damai yang memegang sebuah tulisan, lalu diedit
"menyerukan poligami".
Kedustaannya dilihat dari perkataan yang dituliskan oleh pihak pengedit foto lalu
Ana jadi teringat dengan pembahasan penting ini, silahkan diteliti lebih lanjut:
Jika kita telusuri hadits-hadits Rasulullah -shallallâhu
'alayhi wa sallam-, kita akan menemukan bahwa beliau -shallallâhu 'alayhi wa
sallam- terkadang menyampaikan pelajaran dengan sedikit candaan namun tidak
mengandung apapun kecuali kebenaran, tidak ada kedustaan di dalamnya. Hal itu
misalnya tergambar dalam dialog antara Rasulullah -shallallâhu 'alayhi wa
sallam- dengan seseorang yang sudah tua yang bertanya mengenai surga, seperti
disebutkan al-Mubarakfuri (w. 1353 H) dalam Tuhfatu al-Ahwadzi, bahwa tidak ada
orang tua yang masuk surga (لَا تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَجُوزٌ), dengan maksud
bahwa semua orang yang masuk surga akan kembali muda belia. Candaan yang benar,
sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: ”Para sahabat berkata:
”Wahai Rasulullah -shallallâhu 'alayhi wa sallam-, sesungguhnya engkau
mencandai kami” Rasulullah -shallallâhu 'alayhi wa sallam- bersabda:
إِنِّي لَا أَقُولُ إِلَّا حَقًّا
”Sesungguhnya aku tidak akan berkata-kata kecuali kebenaran.” (HR. Al-Tirmidzi dan Ahmad)[1]
Menurut Imam al-Mubarakfuri, makna haqq[an] dalam hadits di atas yakni ’adl[an] (adil, tidak mengandung kezhaliman) dan shidq[an] (benar, jujur atau tidak mengandung kedustaan).[2]
إِنِّي لَا أَقُولُ إِلَّا حَقًّا
”Sesungguhnya aku tidak akan berkata-kata kecuali kebenaran.” (HR. Al-Tirmidzi dan Ahmad)[1]
Menurut Imam al-Mubarakfuri, makna haqq[an] dalam hadits di atas yakni ’adl[an] (adil, tidak mengandung kezhaliman) dan shidq[an] (benar, jujur atau tidak mengandung kedustaan).[2]
Catatan Kaki:
[1] Hadits hasan; Abu al-‘Alla Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim al-Mubarakfuri, Tuhfatu al-Ahwadzi bi Syarh Jâmi’ al-Tirmidzi, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, juz. VI, hlm. 108.
[2] Ibid.
Oleh: Ustadz Irfan Abu Naveed
[1] Hadits hasan; Abu al-‘Alla Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim al-Mubarakfuri, Tuhfatu al-Ahwadzi bi Syarh Jâmi’ al-Tirmidzi, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, juz. VI, hlm. 108.
[2] Ibid.
Oleh: Ustadz Irfan Abu Naveed

