Hukum Menyematkan Radhiyallâhu ‘anhu Kepada Para Ulama Selain Sahabat
Soal : Afwan ustadz, mhn penjelasan pertanyaan sy... tentang sematan gelar ra(radhiallahu anhu) apakah gelar tsb khusus utk para shahaba...
http://syariah-pos.blogspot.com/2017/01/hukum-menyematkan-radhiyallahu-anhu-kepada-para-ulama-selain-sahabat.html
Soal : Afwan ustadz, mhn penjelasan pertanyaan
sy... tentang sematan gelar ra(radhiallahu anhu) apakah gelar tsb khusus utk
para shahabat rasul saw atau bgmn..krn pernah dlm tulisan media sematan gelar
tsb ada di belakang nama syaikh HT (afwan ini pertanyaan tmn sy, sdh lama dan
sy lupa syaikh siapa yg dituliskan ustadz, mhn maaf...)..jazakalloh atas
penjelasannya. Umi Ghofaz, [17.06.16 12:27]
Jawaban
إن الحمد لله نستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا من
يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن
محمدا عبده ورسوله والصّلاة والسّلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه،
وبعد
Sahabat digelari do'a radhiyallâhu
‘anhu (untuk laki-laki)/ ‘anhâ (untuk perempuan atau
shahabiyyah) dan ‘anhum (untuk jamak), berdasarkan ayat:
{وَالسَّابِقُونَ
الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ
بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ
تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ
الْفَوْزُ الْعَظِيمُ}
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk
Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka
dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan
Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di
dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah
kemenangan yang besar.” (QS. Al-Tawbah [9]: 100)
Ayat di atas jelas konteksnya berbicara
mengenai sahabat, namun jika kita menilik ayat:
{جَزَاؤُهُمْ
عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ
فِيهَا أَبَدًا ۖ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ
لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ}
“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha
terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah
(balasan) bagi orang yang takut kepada Rabb-nya.” (QS.
Al-Bayyinah [98]: 8)
Dimana sebelumnya ayat ini berbicara
mengenai orang-orang yang beriman dan beramal shalih:
{إِنَّ
الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ}
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah
sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 7)
Padahal orang-orang yang beriman dan
beramal shalih sudah tentu bukan hanya sahabat. Dalam ayat ke-8 di atas pun
terdapat kalimat (ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ)
yang menunjukkan sifat dari orang-orang yang beriman dan beramal shalih ini,
yang maknanya memperjelas maksud ayat:
{إِنَّمَا
يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ}
“Sesungguhnya
yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah ulama.” (QS. Fâthir
[35]: 28)
Menggabungkan kedua ayat di atas, Abu
Bakar al-Jashshash lalu menuturkan bahwa informasi bahwa sebaik-baiknya makhluk
adalah ia yang takut terhadap Rabb-nya, dan Allah menginformasikan dalam
ayat-Nya bahwa orang-orang yang berilmu di sisi Allah mereka lah yang takut
terhadap-Nya, maka hasil dari dikumpulkannya dua ayat ini bahwa orang berilmu
mereka adalah sebaik-baiknya makhluk Allah. (Ahmad bin ‘Ali Abu Bakar al-Râzi
al-Jashshash al-Hanafi, Ahkâm al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ihyâ’
al-Turâts al-‘Arabi, 1405 H, juz. V, hlm. 247)
Kesimpulan ayat-ayat di atas mengandung
petunjuk bahwa Allah meridhai para ulama, maka berdasarkan ayat-ayat di atas
pula bisa ditarik simpulan kebolehanmenyematkan do’a –radhiyallâhu
‘anhu- kepada para ulama selain sahabat, bahkan hukumnya dianjurkan atau
sunnah, dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama.
Al-Hafizh Abu Zakariya Yahya bin Syarf
al-Nawawi (w. 676 H) menegaskan:
يُسْتَحَبُّ
التَّرَضِّي وَالتَّرَحُّمُ عَلَى الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ فَمَنْ بَعْدَهُمْ
مِنْ الْعُلَمَاءِ وَالْعُبَّادِ وَسَائِرِ الْأَخْيَارِ فَيُقَالُ رَضِيَ اللَّه
عَنْهُ أَوْ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ أَوْ رَحِمَهُ اللَّه وَنَحْوُ ذَلِكَ
“Disunnahkan mengucapkan al-taradhdhiy (do’a radhiyallâhu
‘anhu) dan al-tarahhum(do’a rahimahullâh) untuk
para sahabat, tabi’in, dan generasi setelah mereka dari para ulama, ahli ibadah
dan orang-orang pilihan yang baik (shalih), maka diungkapkanradhiyallâhu
‘anhu atau rahmatullâhi ‘alayhi atau rahimahullâh dan
yang semisalnya.” (Abu Zakariya Yahya bin Syarf al-Nawawi, Al-Majmû’
Syarh al-Muhadzdzab, Beirut: Dâr al-Fikr, juz VI, hlm. 172)
Imam al-Nawawi pun dalam al-Majmû’ ini
melemahkan pendapat yang mengkhususkan do’a radhiyallâhu ‘anhu hanya
untuk sahabat semata, dan menguatkan pendapat jumhur ulama yang
menganjurkannya, dan menurutnya dalil-dalilnya banyak.
Hal itu pun tergambar dari al-Hafih Abu Zakariya al-Nawawi
yang menyematkanradhiyallâhu ‘anhum kepada para ulama selain
sahabat dibanyak tempat dalam kitabnya, Syarh Shahih Muslim, di
antaranya:
· وَالْعُلَمَاءُ
كَافَّةً مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ فَمَنْ بَعْدَهُمْ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمْ / قَوْلُ أَكْثَرِ الْعُلَمَاءِ مِنَ
الصَّحَابَةِ فَمَنْ بَعْدَهُمْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
Dimana fatwa Imam al-Nawawi di atas pun banyak dinukil oleh
para ulama setelahnya, di antaranya dalam kitab al-Mawsû’ah
al-Kuwaitiyyah (juz XI/hlm. 185). Dan ini pula yang disebutkan Imam
Ibnu Hajar al-Haitami (w. 979 H) dalam kitab Tuhfat al-Muhtâj:
وَيُسَنُّ
التَّرَضِّي وَالتَّرَحُّمُ عَلَى كُلِّ خَيِّرٍ وَلَوْ غَيْرَ صَحَابِيٍّ
خِلَافًا لِمَنْ خَصَّ التَّرَضِّيَ بِالصَّحَابَةِ
“Disunnahkan mengucapkan do’a radhiyallâhu ‘anhu dan
do’a rahimahullâh untuk orang pilihan yang melakukan kebaikan
selain sahabat berbeda dengan pendapat ulama yang mengkhususkan do’a radhiyallâhu
‘anhu untuk sahabat semata.” (Ahmad bin Muhammad al-Haitami, Tuhfat
al-Muhtâj fî Syarh al-Minhâj, Mesir: al-Maktabah al-Tijariyyah
al-Kubra, 1357 H, juz III, hlm. 239)
Dalam kitab al-Mawsû’ah al-Kuwaitiyyah pun
dinukilkan pendapat dalam ‘Umdah al-Abrâr:
يَجُوزُ
التَّرَضِّي عَنِ السَّلَفِ مِنَ الْمَشَايِخِ وَالْعُلَمَاءِ
“Boleh hukumnya mendo’akan radhiyallaahu
‘anhu untuk para ulama salaf dari kalangan para syaikh, para ulama.”
Yakni berdasarkan dalil ayat QS.
Al-Bayyinah: 7-8 di atas. Dan di dalam ayat yang mulia ini pun terdapat
penyebutan untuk orang-orang beriman dari kalangan sahabat dan selain mereka. (al-Mawsû’ah
al-Fiqhiyyah al-Kuwaytiyyah (Kuwait: Dâr al-Salâsil, juz X, hlm. 196))
Pendapat para ulama yang memperbolehkan
ini pun disebutkan para ulama dalam kutub mereka di antaranya Syaikh
Syihabuddin al-Nafrawi al-Maliki (w. 1126 H) yakni dari madzhab Maliki dalam
kitab Al-Fawâkih al-Dawâniy ‘alâ Risâlat Ibn Abi Zayd al-Qirwaniy (Beirut:
Dâr al-Fikr, 1415 H, juz II, hlm. 360)
Wallâhu a’lam bi al-shawâb.
Diposkan oleh Ustadz Irfan Abu Naveed Irfan
irfanabunaveed.net

