Tak Disangka, Pianis Pribadi Hitler Ternyata Orang Indonesia
Buku sejarah dunia lebih banyak mencatat sisi kelam Adolf Hitler, pemimpin Nazi yang dikenal keras dalam politik dan militer. Tapi t...
http://syariah-pos.blogspot.com/2017/01/tak-disangka-pianis-pribadi-hitler-ternyata-orang-indonesia.html?m=1
Buku sejarah dunia lebih banyak mencatat sisi kelam
Adolf Hitler, pemimpin Nazi yang dikenal keras dalam politik dan militer. Tapi tahukah Anda, di balik
kekejamannya itu, ternyata Hitler juga memiliki sisi lain yang jarang diketahui
banyak orang. Dia dikenal sangat menyukai musik klasik dan sering menggelar
konser pribadi di rumah peristirahatannya di Obersalzberg.
Hitler memiliki seorang pianis bernama Ernst Hanfstaengl,
anak dari Franz Hanfstaengl, seorang pengusaha penerbitan di Jerman dan Amerika
Serikat. Franz cukup sering membantu
keuangan Hitler, termasuk menerbitkan bukunya yang berjudul Mein Kampf.. Namun, seiring berjalanya waktu, hubungan Ernst dan Hitler mulai menunjukan
kerenggangan.
Hitler sering mendengar hal-hal buruk tentang Ernst yang kala
itu menjabat sebagai kepala Biro Pers Luar Negeri di Amerika. Puncak rusaknya hubungan mereka karena Unity Mitford, perempuan cantik teman dekat Hitler. Setelah bercerai
dengan Helene, istrinya terdahulu, Ernst mendekati Unity yang membuat Hitler
tidak senang.
Merasa nyawanya terancam, Ernst lari ke Swiss kemudian ke Inggris. Ketika
Perang Dunia II meletus, dia ditahan di Kanada. Pada 1942, dia dikirim ke
Amerika atas permintaan pribadi Franklin D. Roosevelt, teman semasa Ernst
berkuliah di Harvard. Kemudian Roosevelt mengangkatnya sebagai penasihat
politik.
Lalu siapahkah yang menggantikan Ernst sebagai pianis Hitler?
Sebuah buku berjudul Jejak
Hitler di Indonesia (2016)
yang ditulis Horst H. Geerken mengungkap bahwa pianis pengganti Ernst adalah
seorang berkebangsaan Hindia Belanda --yang sekarang menjadi Indonesia, Abu
Bakar.
Geerken mengetahuinya setelah
mendapatkan informasi dari Iwan Ong Santosa, wartawan Kompas yang menekuni
sejarah. Iwan dan ibunya menceritakan bahwa pada 1990-an mereka ingin
membeli rumah di Bogor, lalu ditawari sebuah rumah di Jalan Raya Bogor milik
Abu Bakar yang berusia sekitar 80 tahun. Abu Bakar mengajar les piano dan
biola.
“ Tembok rumahnya tertutup oleh foto-foto dari guntingan
koran berbahasa Jerman dan Indonesia yang memperlihatkan Abu Bakar sedang
berpose bersama Hitler; dan Abu Bakar sedang memainkan piano dengan Hitler dan
Eva Braun di dekatnya,” tulis Geerken.
Kendati gagal membeli rumah itu karena Abu Bakar memutuskan
tidak menjualnya, Iwan mendapatkan kisah menarik sang pemilik rumah.\ Abu Bakar bercerita kepada Iwan dan ibunya bahwa dia pernah
tinggal di Jerman tahun 1937 dan selama perang paling lama di paviliun tambahan
di kediaman Hitler di Obersalzberg. Dia secara teratur pergi menghibur Hitler dan istrinya, Eva
Braun, ketika mereka bersantai dengan mendengarkan musik di petang hari.
Bagaimana Abu Bakar bisa pergi ke Jerman? Menurut Geerken
barangkali tidak akan pernah diperoleh jawaban yang pasti. “ Dalam pikiran
saya, kuncinya ada di Walther Hewel,” kata Geerken.
Sampai tahun 1936, Hewel tinggal di perkebunan Neglasari
(Neglasari Estate Plantation), dekat Garut, Jawa Barat. Hewel juga penggemar
berat musik klasik sebagaimana terlihat dalam catatan di buku hariannya.
Dia mengenal Abu Bakar karena sering konser eksklusif di
hadapan bos-bos perkebunan. Hewel kemungkinan mendengar kaburnya Ernst dan
mengatur agar Abu Bakar bisa berangkat ke Jerman.
Abu Bakar kembali ke Indonesia setelah tahun 1950. Dia hidup
membujang dan kesepian di usia tua. Dia menjual rumahnya pada 1994. Jejaknya
lenyap seperti bekas rumahnya yang telah menjadi kebun penuh pepohonan.
Abu Bakar tidak mendapat kekayaan dari hasil bermusik bagi
elite Nazi Jerman. “ Namun, masa-masa berada dekat Hitler dan kalangan
elitenya, membuat dia banyak dihormati orang di Bogor dan kisah-kisahnya
tentang Hitler dan Obersalzberg selalu diterima baik oleh para tetanganya,”
kata Geerken.
(Dream.co.id, dari berbagai sumber)

Posting Komentar