Cak Nun : The Scary Khilafah
The Scary Khilafah" Kenapa dunia begitu ketakutan kepada Khilafah? Yang salah visi Khilafahnya ataukah yang menyampaikan Khilafa...
http://syariah-pos.blogspot.com/2017/08/cak-nun-scary-khilafah.html?m=1
The Scary Khilafah"
Kenapa dunia begitu ketakutan kepada Khilafah? Yang salah visi
Khilafahnya ataukah yang menyampaikan Khilafah kepada dunia? Sejak 2-3 abad
yang lalu para pemimpin dunia bersepakat untuk memastikan jangan pernah Kaum
Muslimin dibiarkan bersatu, agar dunia tidak dikuasai oleh Khilafah.
Maka pekerjaan utama sejarah dunia adalah: dengan segala cara memecah
belah Kaum Muslimin. Kemudian, melalui pendidikan, media dan uang, membuat
Ummat Islam tidak percaya kepada Khilafah, AlQur`an dan Islam. Puncak sukses
peradaban dunia adalah kalau Kaum Muslimin, dengan hati dan pikirannya, sudah
memusuhi Khilafah. Hari ini di mata dunia, bahkan di pandangan banyak Kaum
Muslimin sendiri: Khilafah lebih terkutuk dan mengerikan dibanding Komunisme
dan Terorisme. Bahkan kepada setan dan iblis, manusia tidak setakut kepada
Khilafah.
Perkenankan saya mundur dua langkah dan mencekung ke spektrum kecil.
Juga maaf-maaf saya menulis lagi tentang Khilafah. Ini tahadduts binni’mah,
berbagi kenikmatan. Banyak hal yang membuat saya panèn hikmah, pengetahuan,
ilmu dan berkah. Misalnya saya tidak tega kepada teman-teman yang mengalami
defisit masa depan karena kalap dan menghardik dan mengutuk-ngutuk tanpa
kelengkapan pengetahuan. Sementara saya yang memetik laba ilmu dan berkahnya.
Ummat manusia sudah berabad-abad melakukan penelitian atas alam dan
kehidupan. Maka mereka takjub dan mengucapkan “Robbana ma kholaqta hadza
bathila”. Wahai Maha Pengasuh, seungguh tidak sia-sia Engkau menciptakan semua
ini. Bahkan teletong Sapi, menjadi pupuk. Sampah-sampah alam menjadi rabuk.
Timbunan batu-batu menjadi mutiara. Penjajahan melahirkan kemerdekaan.
Kejatuhan menghasilkan kebangkitan. Penderitaan memberi pelajaran tentang
kebahagiaan.
Saya juga tidak tega kepada teman-teman yang anti-Khilafah. Tidak tega
mensimulasikan nasibnya di depan Tuhan. Sebab mereka menentang konsep paling
mendasar yang membuat-Nya menciptakan manusia. Komponen penyaringnya dol: anti
HTI berarti anti Khilafah. Lantas menyembunyikan pengetahuan bahwa anti
Khilafah adalah anti Tuhan. “Inni ja’ilun fil ardli khalifah”. Sesungguhnya aku
mengangkat Khalifah di bumi. Ketika menginformasikan kepada para staf-Nya
tentang makhluk yang Ia ciptakan sesudah Malaikat, jagat raya, Jin dan Banujan,
yang kemudian Ia lantik – Tuhan tidak menyebutnya dengan “Adam” atau “Manusia”,
“Insan”, “Nas” atau “makhluk hibrida baru”, melainkan langsung menyebutnya
Khalifah. Bukan sekadar “Isim” tapi juga langsung “Af’al”.
Konsep Khilafah dengan pelaku Khalifah adalah bagian dari desain Tuhan
atas kehidupan manusia di alam semesta. Adalah skrip-Nya, visi missi-Nya, Garis
Besar Haluan Kehendak-Nya. Khilafah adalah UUD-nya Allah swt. Para Wali
membumikannya dengan mendendangkan: di alam semesta atau al’alamin yang harus
dirahmatkan oleh Khilafah manusia, adalah “tandure wis sumilir, tak ijo
royo-royo, tak sengguh temanten anyar”. Tugas Khalifah adalah “pènèkno blimbing
kuwi”. Etos kerja, amal saleh, daya juang upayakan tidak mencekung ke bawah:
“lunyu-lunyu yo penekno”. Selicin apapun jalanan di zaman ini, terus panjatlah,
terus memanjatlah, untuk memetik “blimbing” yang bergigir lima.
Khilafah adalah desain Tuhan agar manusia mencapai “keadilan sosial”,
“gemah ripah loh jinawi”, “rahmatan lil’alamin” atau “baldatun thayyibatun wa
Rabbun Ghofur”. Apanya yang ditakutkan? Apalagi Ummat Islam sudah terpecah
belah mempertengkarkan hukum kenduri dan ziarah kubur, celana congklang dan
musik haram, atau Masjid jadi ajang kudeta untuk boleh tidaknya tahlilan dan
shalawatan. Mungkin butuh satu milenium untuk mulai takut kepada “masuklah ke
dalam Islam sepenuh-penuhnya dan bersama-sama”. Itu pun sebenarnya tidak
menakutkan. Apalagi dunia sekarang justru diayomi oleh “udkhulu fis-silmi
kaffah”: masuklah ke dalam Silmi sejauh kemampuanmu untuk mempersatukan dan
membersamakan.
Hari-hari ini jangan terlalu tegang menghadapi Kaum Muslimin. Kenduri
yang dipertentangkan adalah kenduri wèwèh ambengan antar tetangga, bukan
kenduri pasokan dana nasional. Toh juga dengan pemahaman ilmu yang tanpa
anatomi, banyak teman mengidentikkan dan mempersempit urusan Khilafah dengan
Hizbut Tahrir. HTI sendiri kurang hati-hati mewacanakan Khilafah sehingga dunia
dan Indonesia tahunya Khilafah adalah HTI, bukan Muhammadiyah atau lainnya.
Padahal HT maupun HTI bukan penggagas Khilafah, bukan pemilik Khilafah dan
bukan satu-satunya kelompok di antara ummat manusia yang secara spesifik
ditugasi oleh Allah untuk menjadi Khalifah.
Setiap manusia dilantik menjadi Khalifah oleh Allah. Saya tidak bisa
menyalahkan atau membantah Allah, karena kebetulan bukan saya yang menciptakan
gunung, sungai, laut, udara, tata surya, galaksi-galaksi. Bahkan saya tidak
bisa menyuruh jantung saya berdetak atau stop. Saya tidak mampu membangunkan
diri saya sendiri dari tidur. Saya tidak sanggup memuaikan sel-sel tubuh saya,
menjadwal buang air besar hari ini jam sekian, menit kesekian, detik kesekian.
Bahkan cinta di dalam kalbu saya nongol dan menggelembung begitu saja, sampai
seluruh alam semesta dipeluknya — tanpa saya pernah memprogramnya.
Jadi ketika Tuhan bilang “Jadilah Pengelola Bumi”, saya tidak punya
pilihan lain. Saya hanya karyawan-Nya. Allah Big Boss saya. Meskipun dia kasih
aturan dasar “fa man sya`a falyu`min, wa man sya`a falyakfur”, yang beriman
berimanlah, yang ingkar ingkarlah – saya tidak mau kehilangan perhitungan.
Kalau saya menolak regulasi Boss, saya mau kerja di mana, mau kos di mana, mau
pakai kendaraan apa, mau bernapas dengan udara milik siapa. Apalagi kalau saya
tidur dengan istri, Tuhan yang berkuasa membuatnya hamil. Bukan saya. Saya cuma
numpang enak sebentar.
Hal-hal seperti itu belum cukup mendalam dan rasional menjadi kesadaran
individual maupun kolektif Kaum Muslimin. Jadi, wahai dunia, apa yang kau
takutkan dari Khilafah? Andaikan Khilafah terwujud, kalian akan diayomi oleh
rahmatan lil’alamin. Andaikan ia belum terwujud, sampai hari ini fakta di muka
bumi belum dan bukan Khilafah, melainkan masih Kaum Muslimin. Bahkan di
pusatnya sana Islam tidak sama dengan Arab. Arab tidak sama dengan Saudi. Saudi
tidak sama dengan Quraisy. Quraisy tidak sama dengan Badwy. Apa yang kau
takutkan? Wahai dunia, jangan ganggu kemenanganmu dengan rasa takut kepada
fatamorgana.
5 Agustus 2017
OLEH: EMHA AINUN NADJIB

Posting Komentar